07022017

Ntah sejak kapan perbincangan kita menjadi seperti ini. Question and Answer. Semacam introgasi tanpa ada pertanyaan kembali. Tidakkah kamu ingin bertanya? Tidakkah kamu peduli? *Apa yang kamu harapin, Riiii. Wake up!*

It’s really hard to even breath. Really really hard. Bahkan dengan tanpa kehadiranmu, semakin membuat perasaan ini tak karuan setiap membaca ataupun mendengar namamu. What am i doing? What i suppose to do?

Kita masih ada di satu kota. Langit kita, pemandangan kita masih sama. Dan itu yang mungkin semakin membuat berat. Setiap jalan yang kulalui, tempat yang ku singgahi selalu ada memori tentangmu. Semua masih tentang kamu, Koo. Semuanyaaa. Tapi, perasaan orang tidak bisa dipaksakan, kan? Aku hargain apapun keputusanmu dengan hubungan ini. 

Meskipun berat dan susah aku tetap harus menjalani hari ini. Membiasakan sendiri lagi. Membiasakan diri untuk bilang Jogja adalah kotaku, bukan kota kita.

Waiting…

‚ÄčNtah kepingan puzzle yang tak kumpulin ini bener atau ga. Tapi kalau emang bener, aku harus siap kalau memang hatimu sudah menemukan pemilik yang baru. Sahabatmu, temanmu yang selalu ada dari dulu bukan aku, teman yang baru saja kamu temui.

Maafkan aku, jika memang aku tidak tahu diri. Maafkan aku karena aku bertindak seolah-olah kita ada hubungan meskipun tidak. Maafkan aku karena kamu harus bersabar denganku dan berusaha sopan dengan tetap menanggapi apapun omonganku. Aku berterimakasih sekali, koo. 

Aku sadar, karena waktu yang semakin sempit ini aku semakin egois. Jika memang aku bukan pilihanmu, setidaknya aku pernah merasa pernah menjadi bagian dari hidupmu. Setidaknya, aku pernah merasa perasaan ini berbalas. Setidaknya, aku pernah merasa berarti untuk hidupmu. Meskipun sebenarnya mungkin tidak pernah ada dan kamu merasa terganggu denganku.

Ada beberapa saat dimana aku merasa kecewa dengan dirimu yang terkadang seperti menghindari masalah dengan memilih menundanya atau mengalihkan perhatianmu. Atau terkadang kamu yang memilih untuk berbohong. Mungkin kamu hanya tidak ingin membuatku semakin terpuruk, tapi pada akhinya aku semakin terpuruk karena perasaan insecure ku yang pada akhirnya menjadi pikiran negatif yang selalu saja membayangi dan mempertanyakan setiap tindakanmu.

Aku tahu kamu introvert, memilih untuk membangun cangkang pelindungmu sendiri dengan menghindari dunia luar. Dan aku, dengan sikapku yang bisa dibilang kurang sabar memilih untuk langsung mengetuk cangkang pelindungmu yang mungkin tanpa sengaja menyakitimu. Aku terus saja menggedor cangkangmu dan terkadang tanpa memikirkan perasaanmu. Maafkan aku. Aku sudah berusaha untuk menahannya, tapi aku belum sanggup untuk melepaskanmu. Aku masih begitu menyayangimu. Maafkan aku, aku menjadi beban untukmu, orang yang aku sayangi dan mungkin aku cintai.

Terkadang, aku membenci diriku sendiri yang tidak dapat menahan ego dan sikapku sendiri. Aku selalu saja mengganggumu dengan rengekanku dan kecrewetanku. Aku tahu aku terlalu brisik dan kamu butuh ketenangan. Egois banget ya, aku…

Saat ini, aku sudah siap kok nunggu waktu eksekusi. Aku menunggu kamu untuk mengakhiri semuanya. For the worst or the best. Sekarang semuanya berada ditanganmu. Aku sudah berusaha melakukan semua hal yang bisa kulakukan untuk orang yang aku sayangi. Jadi, apapun keputusanmu kelak, meskipun itu harus berakhir dengan luka dan air mata aku tidak akan pernah menyesal karena telah membuka hatiku untukmu. Mungkin kamu ada dihidupku untuk memberiku pelajaran kehidupan dan menyadarkanku bahwa ternyata aku masih punya hati dan bisa percaya, menyayangi, dan mencintai orang lain selain keluargaku. 

Ternyata untuk beberapa saat lukaku bisa sembuh karena kehadiranmu di hidupku meskipun itu hanya beberapa saat saja. Aku bahagia dengan kenangan kita, dan aku tidak akan pernah melupakannya meskipun sakit tapi kebahagiaan yang kamu berikan sudah bisa menutup lukaku. Aku akan mengingatmu sebagai kenangan kebahagiaanku, koo.

Terimakasih untuk semua yang kamu berikan selama ini, dan maafkan aku jika kebahagiaan yang aku beri tidak sebanyak kebahagiaan yang kamu berikan untukku..

Happy Birthday to YOU!

wp-1478662584148.png

Jam belum ada yang menunjukkan pukul 00.00 tanggal 09 November 2016, masih tanggal 08 November 2016. Sejam sebelum waktuku, kamu sudah mengganjilkan usiamu. It’s weird that I have to say it when my time is not already your birthday.

Selamat ulang taun ya, Koo. Semoga kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Sehat dan bahagia selalu yaa..

Aku cuma bisa doain kamu, karena aku juga tidak yakin aku bisa bahagiain kamu. Aku udah nyoba, tapi sepertinya kamu masih belum bisa dan aku belum cukup baik. Aku sadar kok, aku banyak kekurangan dan kita yang berbeda. Bahkan hubungan kita sekarang sudah menjadi seperti ini. Sudah ntahlah.

Bahagia selalu yaaa. Jaga kesehatan. Semoga bisa lebih bijaksana dan lebih dewasa. You always have choices to live what you wanna be in your life, haven’t you? So choose  wisely, Koo. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Mas Awan. Haha “orang yang ingin dipanggil Awan”, have happy life in everywhere you live, yaa!