Kamu dan Senjamu

Hari ini, ketika aku baca novel Seno Gumira Ajidharma yang berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku” aku teringat Kamu dan senjamu.

Sepotong senja di tanah kelahiranmu yang kamu ambil tanggal 14 Oktober 2016. Kamu kirim potongan senjamu sore itu. Senja dengan gunung, laut, dan langit dengan semburat jingganya. Senja yang membuatku bertanya “Bisakah kita memandang senja bersama dan merealisasikan puisi kita dulu?”. Senja yang memberiku harapan. Senja yang membuat perasaan ini semakin mendalam.

Tapi, senja juga pernah membuatku patah. Senja dari perempuan lain yang kau banggakan. Senja yang membuatku berpikir, mungkin senjamu sudah bukan untukku lagi. Potongan senja itu yang membuat hatiku bukan hanya teriris tetapi terpotong-potong.

Senja selalu mengingatkanku padamu. Senja yang menyadarkan perasaanku padamu. Senja yang selalu menyadarkan aku betapa rindunya aku padamu. Lalu kubisikkan kata rinduku pada senja supaya senja membisikkan rinduku padamu, menyampaikan betapa senja ini membuatku semakin merana karena rindu yang tak tersampai. Rindu tanpa sosokmu di sekitarku. Rindu radiasimu yang selalu membuatku nyaman dan aman.

Ketika senja mulai bernyanyi untukmu, tanpa sadar akupun ikut bernyanyi dengannya.

Itu senja pertamaku untukmu. Senja ketika untuk pertamakalinya aku mulai menyadari persahabatan kita membawaku ke tingkat lanjut sebuah rasa. Rasa yang aku sendiri tidak tahu apakah akan tenggelam dan hilang seperti senja yang tertelan malam ataukah akan tetap abadi menjadi senja yang selalu kita nantikan dan nikmati berdua setiap harinya.

Aku sendiripun tidak tahu sampai kapan akan menganggapmu sebagai senjaku. Karena sejak senja pertama untukmu itu, senja selalu rasa seperti kamu. Kamu adalah senja. Senja adalah kamu.

-Me, who loves you and declares that you are my sunset. May I?-

Yogyakarta, 05 Maret 2017 22.55

Aku Harus Belajar!

Iya, hidup ini memang tentang berusaha dan menerima. Berusaha sebaik-baik untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Berusaha dan berdoa sebaik-baiknya dan pada akhirnya menerima hasilnya. Terkadang hasil ini pun ada yang sesuai dengan apa yang kita inginkan atau bahkan terkadang mendapatkan lebih dari yang diinginkan. Namun, ada kalanya hasil yang diperoleh jauh dari apa yang diinginkan dan diharapkan.

Begitulah, mungkin aku menginginkan kamu, menganggap kamulah yang terbaik untukku. Aku berusaha sebaik-baiknya menjadi orang yang lebih baik dan berdoa untuk kita bisa bersatu. Tapi, pada kenyataanya perasaan ini ternyata hanyalah perasaan sepihak. Iya, aku menyalahartikan semua perhatianmu dan menyadari bahwa ini hanya perasaan sepihak saja. Aku menginginkan kamu sedangkan kamu tidak menginginkanku, mungkin kamu menginginkan orang lain. Pada akhirnya, sekeras apapun usahaku dan doaku, serta seyakin apapun perasaanku padamu semua kembali lagi pada Allah. Jika Allah maunya kamu bukan buat aku, aku bisa apa? Aku cuma bisa menerima kenyataan ini dan mengambil pelajaran dari hubungan kita.

Tidak perlulah, permusuhan ataupun pemutusan silaturahmi hanya karena satu pihak tidak mendapatkan apa yang diinginkan dari pihak lain. Toh banyak hal yang didapatkan selain dari hubungan percintaan. Memang, hubungaan cinta ini sangat rumit dan menyita banyak waktu. Tapi, apa mungkin perasaan dan hubungan yang baik-baik saja harus berakhir dengan saling membenci padahal dulu ketika bersama bisa saling memahami dan memaklumi? Ya, mungkin terbutakan. Tapi kalau dahulu bisa memaklumi kenapa sekarang tidak?

Tidak ada yang berubah, hanya perasaan yang mungkin sedikit tersakiti. But, time will heal everything. Rasa sakit dan kehilangan itu harus dihadapi kan? Semakin sering kita menghadapinya, maka akan semakin kuat kita melawannya, begitu kan seharusnya? Bukan dengan menghindar dan menyimpannya dan suatu saat akan datang sebagai hantu masalalu yang terkadang membuat penyesalan.

Aku sadar, mungkin memang aku tidak pantas untukmu, disamping memang kamu tidak menerimaku. Aku, memang hanya seorang gadis biasa dengan banyak kekurangan dan kelemahan. Kamu, dengan semua kelebihan yang kamu miliki, yang membuatku kagum dan nyaman dan pada akhirnya perasaanku berkembang untukmu. Aku merasa aku tidak pantas untukmu, meskipun aku pernah berpikir “mungkin aku pantas berada di sisimu”. Tapi pikiran itu saat ini sudah jauh. Kamu terlalu jauh dari jangkauanku. Kamu terlalu sempurna untuk gadis sepertiku. Bukan hanya untukmu saja, mungkin aku tidak pantas untuk orang lain juga karena semua kekuranganku. Aku harus tau diri. Bukan aku rendah diri, tidak, aku masih sayang dengan diriku dan bangga dengan beberapa hal pencapaianku. Tapi, saat ini aku merasa belum pantas untuk siapapun, termasuk kamu. Aku cukup bersyukur dengan teman-teman yang selalu ada untukku dan selalu menghiburku.

Aku ingat beberapa hari yang lalu, aku hampir menangis (apa malah sudah menangis tapi ditahan? 😯😯) melihatmu presentasi. Bukan karena presentasimu membuatku sedih, hanya saja aku menyadari kamu terlalu sempurna dan kenyataan aku harus sadar diri siapa aku. Kamu begitu charming dan presentasimu sangat mengagumkan membuatku merasa semakin aku tidak pantas untukmu. Hehee

Aku harus belajar lagi. Aku harus lebih memapankan hidupku lagi. Mengumpulkan pecahan hatiku yang berserakan dan mulai menatanya lagi. Meskipun tidak akan sama dan utuh lagi karena sebagian pecahan itu telah hilang bersama hilangnya kamu dari hatiku. Memantaskan diri untuk setidaknya pantas untuk diriku sendiri untuk membuat diriku sendiri bangga dan dengan mantap mengucapkan “INI AKU!”.

07022017

Ntah sejak kapan perbincangan kita menjadi seperti ini. Question and Answer. Semacam introgasi tanpa ada pertanyaan kembali. Tidakkah kamu ingin bertanya? Tidakkah kamu peduli? *Apa yang kamu harapin, Riiii. Wake up!*

It’s really hard to even breath. Really really hard. Bahkan dengan tanpa kehadiranmu, semakin membuat perasaan ini tak karuan setiap membaca ataupun mendengar namamu. What am i doing? What i suppose to do?

Kita masih ada di satu kota. Langit kita, pemandangan kita masih sama. Dan itu yang mungkin semakin membuat berat. Setiap jalan yang kulalui, tempat yang ku singgahi selalu ada memori tentangmu. Semua masih tentang kamu, Koo. Semuanyaaa. Tapi, perasaan orang tidak bisa dipaksakan, kan? Aku hargain apapun keputusanmu dengan hubungan ini. 

Meskipun berat dan susah aku tetap harus menjalani hari ini. Membiasakan sendiri lagi. Membiasakan diri untuk bilang Jogja adalah kotaku, bukan kota kita.