Rindu

Aku rindu,

Aku rindu senyumanmu,

Rindu suaramu,

Rindu dirimu.

Saat jarak memisahkan, bisakah rasamu terjaga untukku?

Advertisements

841 KM away!

​841 KM, sejauh ini raga kita terpisah. Butuh 6 hari dengan jalan kaki atau 23 jam lebih dengan kendaraan untuk raga rapuh ini bisa bertemu ragamu. Tapi apa sejauh itu juga hati kita?

Aku tahu apa yang hatiku mau. Aku mau kamu! Iya KAMU!

Tapi…

Aku tidak tahu hatimu.

Apakah hatimu menginginkanku untuk selalu berada di sampingmu atau tidak.
Aku masih takut,

Bukan aku tidak mempercayai sikapmu selama 3 bulan ini. What I thought we had!

Bahkan rasa genggaman tanganmu masih begitu terasa hingga saat ini. Tatapanmu, senyummu, belaianmu. Everything about you!

Takut jika aku benar-benar mempercayai perasaanku, aku terlalu berharap. Jika aku berharap, aku akan lebih hancur dari sebelumnya jika harapanku tidak sesuai mauku.
Maafkan aku, jika aku masih mempertanyakan ketulusanmu jika memang yang kurasakan ini memang tulus kasih sayang dari dalam hatimu.

Aku takut, Koo…

Aku takut ini cuma mimpi dan dalam beberapa hari lagi aku harus bangun dari mimpiku dengan realita yang lebih menyakitkan dan merasa hampa lagi.

Aku pernah merasa hampa dan dingin.

Bahkan untuk sekedar bangun dari tempat tidurpun terasa berat.
Kamu tahu alasan sebenarnya kenapa berat badanku turun drastis dalam beberapa bulan lalu? Bukan karena olah raga dan bukan karena tesis. Tapi karena pertengkaran dan hubungan kita. Ya mungkin itu sisi baiknya, tanpa perlu diet berat badanku turun drastis dengan alibi mengerjakan tesis.

Mencoba berkonsentrasi untuk mengerjakan tesis disaat pikiran dan hati yang hancur dan kacau balau ditambah dengan sikapmu waktu itu yang seperti orang yang tidak kenal dan peduli. It was really hard to do. Tiada hari tanpa air mata yang jatuh sebelum tidur.

Di saat aku jatuh, 2 orang sahabat tempat berkeluh kesah dan menemaniku pergi satu-satu meninggalkan kota ini. Hingga akhirnya, aku merasa aku harus bisa ikhlas melepasmu dan mengikhlaskanmu yang mungkin bukan jodohku meskipun aku belum mampu menghapusmu dari pikiran dan hatiku.

Namun, tiba-tiba kamu datang lagi. Ntah apa yang ada di pikiran dan hatimu, aku tidak tahu. Tapi, kamu datang dengan sikap yang jauh lebih baik dan seperti memberikan sepenuhnya perasaanmu padaku. Aku terima semua perhatian dan kasih sayang itu meskipun awalnya aku hanya berpikir “kita hanya dua orang simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain.” dan dengan pertanyaan “ini anak maunya apasih? Kenapa dia jadi perhatian dan manja sama aku gini? Aku harus gimana?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. You know, my brain can’t stop overthinking on something.

Jujur, aku takut kehilangan kamu. Apalagi dengan jarak sejauh ini, dan aku tidak akan tahu apa yang terjadi dengan perasaanmu disana. Some names come to my mind that they might catch your heart and you will leave me again.

Aku tahu, tidak seharusnya aku cemburu atau merasa insecure dengan sahabat perempuanmu itu. Kalian sudah lebih dahulu kenal dan mengetahui kisah masing-masing sedangkan aku hanyalah orang baru dalam hidupmu. Tapi aku tidak tahu hubungan macam apa yang kalian jalani.

Kalian begitu dekat dan begitu intens berkomunikasi. Tapi aku bisa apa? Aku bukan siapa-siapamu yang bisa dengan leluasa mengatakan perasaan dan pikiranku. Aku tidak bisa dengan bebasnya bilang aku cemburu dengan kedekatan kalian. Pernah sekali, aku tidak sengaja melihat sekilas chat kalian. Panggilan mesra dalam chat kalian seketika membuat tubuhku kedinginan dan bergetar (just call me lebay, but that’s what i felt at that time). Aku hanya mampu bertahan dan menunggu waktu untuk bertanya, dan ketika waktu itu datang, aku hanya mampu bertanya “Oh a** itu temen babimu ya?”. 

Padahal banyak hal yang ingin aku tanyakan. Aku sempat merasa kalian memiliki hubungan ketika melihat postinganmu di path dengan caption yang ambigu. Aku ga mau jadi pengganggu hubungan orang jika memang kalian punya hubungan. Mulut dan pikiranku ga mau bersatu untuk bertanya hubungan kalian.

Ketika kita bersama, tidak ada hal yang perlu dipertanyakan dari sikapmu karena sikapmu seperti menunjukkan memang kita memiliki sesuatu. Namun, ketika kita jauh? I can’t help to calm myself down. What should i do?
Sebentar lagi, kamu bakal benar-benar meninggalkan kota ini. Jika hubungan ini hanya ilusi, apa jadinya aku? Kota ini rumahku, tapi penuh dengan kenangan yang mengingatkanku padamu. Bahkan ketika aku pergi sejauh mungkin, aku pasti pulang ke kota ini. Rumahku, setiap jengkal jalanan kota ini dan tempat di kota ini hampir pernah kita lalui bersama. Trus bagaimana aku sanggup melupakanmu?? 😭😭 Untukmu mungkin mudah melupakan dan menganggapku tidak ada karena tidak ada kenangan kita di sana. Aku harus gimana, koo? Aku terlanjur jatuh lebih jatuh lagi untuk kedua kali denganmu. Aku harus gimana, koo? Aku takut mendapat jawaban yang sama denga yang dulu itu, jawaban yang masih sangat jelas kuingat ketika aku meminta pertanggungjawabanmu atas perasaan yang sudah kamu tumbuhkan.

Aku cuma bisa minta maaf, ga ada yang perlu dipertanggungjawabkan.

Kalau jawaban itu keluar lagi aku harus gimana? Air mata yang kukira sudah keringpun untukmu pun ternyata masih memiliki tampungan yang banyak untuk menangisimu.

Aku bingung, koo dengan sikapmu. Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Everymove, everystep that you take, it’s so confusing me sometimes.
Now, it’s almost 3 am in the morning. Aku sudah berhasil melewati sehari tanpa ragamu di sini. Apa kamu juga akan merindukanku? Apa kamu akan menghubungiku? Apa kamu membutuhkanku? Jika aku menghubungimu aku takut mengganggumu (mengganggu waktu quality timemu dengan keluarga dan kerjaanmu). Gimana? Gimana? Gimana? Njut aku kudu piye? *stop it, riiii. Stop your overthinking brain. You need to rest*
Now, I’m little bit better. Maybe i should take some nap before sahoor. Good nite you there (padahal mungkin kamu sudah sahur).

My bedroom, June 21st 2017

23052017

Aku pengen aku yakin bahwa sikap dan perbuatanmu itu nyata. Nyata sebagai seorang yang memang sayang dan mau ngelindungi aku lebih dari seorang sahabat. Setiap kali ada nama perempuan lain, maafkan aku keyakinanku selalu meragu. Aku cuma ga pengen aku hancur seperti beberapa bulan yang lalu. 

Ketika aku mulai bisa menerima keputusanmu dan kumpulan kepingan hatiku mulai bisa ku kumpulkan lagi, kamu datang. Datang dengan memberikan harapan baru. Harapan yang lebih besar daripada harapan yang dulu. Ntah apa yang akan terjadi pada hati dan hidup ini jika memang kamu datang lagi hanya untuk menghancurkannya lagi.

Dulu, ketika kamu menghancurkannya susah payah aku mencoba menjalani hidup supaya aku tidak terpuruk. Susah payah tanpa ada sahabat yang selalu di samping yang siap mendengarkan cerita sakit hatiku dan tangisanku. Susah payah aku bangkit dan akhirnya dapat menyelesaikan apa yang harus ku selesaikan secepatnya untuk bisa cepat meninggalkan tempat yang terlalu banyak kenangan tentang kamu.

Mungkin kamu tidak tahu kalau aku tahu siapa nama perempuan yang kemarin sempat ku tanyakan itu. Tapi aku tahu! Aku tahu siapa dia. Dia perempuan yang pernah mengisi hari-harimu. Perempuan yang pernah menjadi harapan masa depan hidupmu.

Aku bisa apa, jika beberapa bulan bulan ini yang tinggal menghitung hari hatiku hancur lagi? Meskipun sudah kusiapkan mentalku ketika aku mulai mau menerima kehadiranmu lagi, tapi aku hanyalah perempuan biasa. Sekuat apapun sesiap apapun, ketika itu urusan hati semuanya berbeda. Hampir 3 bulan lamanya setiap hari aku menangis, ntah apa yang kutangisi. Apakah sikapmu dulu yang seperti sudah tidak mau dan tidak mau tahu hidupku bahkan sebagai seorang sahabat ataukah pemikiranku yang akhirnya menyakitiku.

Hampir semua orang di sekitarku mengkhawatirkanku. Hampir setiap hari mereka mendengar tangisanku. Mereka diam tanpa bertanya jika aku tidak bercerita. Mendengarkan setiap cerita dan keluh kesahku. Bahkan ketika aku memutuskan untuk kembali mau dekat dengan mu. Pertanyaan “kamu yakin, ri?” “kamu ga papa?” “kamu bahagia, kan?” “dia ga nyakitin kamu lagi, kan?” “dia masih hubungan sama cewek2 yang lain ga?”. Yang beberapa pertanyaan hanya ku jawab dengan senyuman dan pernyataan “doain aja”.

Iya, “doain aja” doain kalau kita memang berjodoh. Kalau tidak, sekuat apapun aku mencoba menggenggammu, pada akhirnya tangan kita akan terlepas. Saat ini, aku hanya mencoba meyakini setiap sikapmu kepadaku itu adalah sebuah komitmen yang memberikan harapan untukku. Ntah kamu menganggap seperti itu atau tidak. Tinggal menunggu hari dan tanggal eksekusi untuk kamu meninggalkan kota ini. Dan aku harus siap dengan apapun keputusanmu. Aku harus siap dengan kemungkinan terburuk aku harus mengumpulkan pecahan hatiku yang sudah pecah berkeping-keping lagi dan menjalani hidupku. Toh badai pertama dengan susah payah aku bisa menyelesaikan tesisku dan tetap hidup. Iya, kan? Kamu tidak akan setega itu kan memberikan harapan palsu dan mempermainkan perasaanku hanya untuk meninggalkannya berkeping-keping? Meskipun aku masih ingat dengan jelas pernyataanmu, kamu akan menuruti kemauan orang tuamu. Ah sudahlah! Aku sendiri sudah entahlah dengan hatiku ini. Semoga memang hatimu untukku ya, Koo. Dan kita memang berjodoh, jika bukan setidaknya kita pernah memiliki kenangan bersama. Tawa dan air mata yang jadi pelajaran untuk menjadi orang yang lebih baik.