Just Like Another Night

Kangeeen…

Pengen aja bisa bilang gitu bebas tanpa harus ada beban. Tapi buat saat ini ga mungkin. Apalah arti aku dalam hubungan kita. Aku hanyalah seorang teman yang mungkin tidak mempunyai arti lebih dari itu dalam hidupmu.

Aku harus bisa menjaga perasaanku supaya tidak jatuh lebih dalam kepadamu. Begitu sulit dan berat rasanya. Bahkan mulai mempertanyakan “Apakah bersuudzon seperti ini dosa? Bukankah kita harus selalu berhusnudzon terhadap orang lain?” Tapi, jika aku tetap berhusnudzon bagaimana nasib perasaanku? Bagaimana jika hanya akan membuatku sakit? Mampukah aku? Kuatkah aku?

Aku telah berusaha untuk menyisihkanmu dalam hidupku. Tapi, aku belum mampu. Aku belum sanggup. Ya, mungkin karena aku sudah sebegitunya bergantung kepadamu.
Aku yang dulu selalu bertindak semauku tanpa berfikir, aku yang dulu selalu dapat melakukan apapun sendiri, aku yang dulu berani terhadap apapun, tapi kiniiii… Semenjak mengenalmu, aku mulai mengenal rasa takut, meragukan keberanianku, dan tergantung dengan orang lain. Aku tidak tahu kemana diriku yang dulu pergi. Yang aku tahu, sekarang aku lebih lemah. Teman-temanku pun mulai merasa ada yang berubah dalam diriku. Mereka bilang, aku lebih halus. Hahaa dan seperti itulah seharusnya perempuan. Bergantung pada orang lain itu tidak salah karena kamu tidak bisa hidup sendiri, begitulah kata mereka. Dan begitulah mungkin aku menjadi seperti ini, mulai bergantung pada orang lain, lebih tepatnya padamu.

Kamu terlalu memanjakanku. Kamu melarang aku pulang malam, pergi jauh sendirian (Jogja-Solo yang dulu selalu kulakukan sendirian ketika kuliahpun kamu ributkan), mengkhawatirkanku pulang sendirian hingga pada akhirnya kamu mengantarkanku pulang dan harus menjemputku paginya.
Mungkin apa yang kamu lakukan itu biasa saja untukmu. Tapi untukku, perempuan yang selalu melakukan apapun sendirian dan selalu berusaha untuk kuat karena ajaran orang tua yang mengharuskanku untuk menjadi perempuan yang kuat dan mandiri pun akhirnya luluh dengan sikapmu. Aku tidak akan pernah luluh jika itu hanya sekedar kata-kata bukan sikap seperti yang kamu lakukan.

Sikap-sikapmu terhadapku yang akhirnya meluluhkan ego dan keras kepalaku. Bahwa bergantung pada orang lain itu tidak apa-apa. Aku mulai belajar sabar. Aku belajar bagaimana menuruti nasehat orang lain. Aku belajar untuk mengalah. Dan aku belajar kodratku sebagai perempuan, perempuan itu lebih lemah dan lembut dari laki-laki. Tapi, setelah aku selemah ini, aku lupa bagaimana caranya untuk menjadi kuat seperti dulu.
Apa harus aku meminta pertanggungjawabanmu? Tapi, apa yang harus aku tuntut darimu? Itu hakmu untuk memilih perempuan terbaik yang kamu inginkan untuk bersanding denganmu selamanya. Aku, perempuan dengan banyak kekurangan mungkin hanya kamu inginkan sebagai teman tidak lebih meskipun aku menginginkan lebih.

Aku ingat setahun yang lalu kita berbicara banyak hal pada malam takbir hingga tengah malam. Mungkin kamu sudah melupakannya, karena kamu memang tidak pernah memiliki rasa. Hatimu sudah kamu berikan pada orang lain, dan bukan aku. Jika aku boleh menebak dan boleh merasa sedikit keGRan, dan anggaplah seperti itu karena ini hanyalah perasaanku saja yang tidak ada ukuran akurasinya, mungkin kamu masih tidak mau mengakui perasaanmu padaku, menepis rasamu untukku karena mungkin kamu menganggap aku tidak pantas. Hahaaa itu hanya keGRanku saja, tidak lebih. Jadi, tidak usah terlalu dipikirkan, dan aku juga tidak mau terlalu memikirkannya meskipun aku berharap suatu saat perasaanku padamu ini akan berbalas.

Ah sudahlah, biarlah malam Idul Adha tahun ini aku qurban perasaan sambil memanjatkan doa yang terbaik untuk perasaan ini dan apa yang terbaik untuk hidupku.

Tetaplah Semangat!

Aku tahu kamu sosok laki-laki yang kuat dengan kemauan yang keras.

Dan kamu akan berjuang untuk mendapatkan apa yang kamu mau, meskipun banyak hal yang harus kamu korbankan.

Aku suka keteguhan hati dan kemauan kerasmu. Karena jujur saja, aku bukan orang yang bisa hidup seperti itu. Dan aku kagum dengan semangatmu itu.

Tapi, entah mengapa ketika kamu mau sesuatu kamu hanya terfokus pada tujuan itu dan mengabaikan banyak hal. Ya, banyak hal bahkan dirimu sendiri.
Aku tidak menuntut apapun darimu dan tidak ingin mengubah apapun darimu karena laki-laki yang sedang berjuang demi mimpinya itu sangat kereeen. Haha 😂😂 *mesti uda kegeeran kalau baca dan tau aku bilang gini*. Dan aku akan selalu mendukung apapun yang sedang kamu usahakan saat ini jika memang itu demi kebaikanmu.

Tapi, tidak bisakah kamu peduli dengan kondisimu? Kamu dengan segenap tenaga dan usahamu berusaha menyelesaikan tesis dan pekerjaanmu bahkan harus mengorbankan waktu tidurmu. Jujur, aku sedih melihat hidupmu akhir-akhir ini menjadi seperti ini. Meskipun dulu mungkin kamu pernah seperti ini.

Tidur menjelang subuh atau bahkan lebih parahnya lagi setelah subuh. Pleaaaaassseee, jaga kesehatanmu. Aku tahu semua kata-kataku tidak pernah kamu turuti hanya kata “iya” tetapi tidak pernah benar-benar kamu dengar. Kamu mengiyakan untuk membuatku diam dan tenang.

Memang, aku tidak punya hak apapun untuk mengatur hidupmu. Mungkin buatmu aku hanyalah pengganggu yang selalu saja brisik dan mengatur hidupmu. Jika kamu mau memikirkannya, itu semua aku lakukan karena aku sayang dan peduli denganmu. Aku tidak ingin kamu menggadaikan kesehatan masa mudamu. Aku tidak ingin melihatmu bekerja seperti zombie. Tanpa perasaan dan tanpa pernah istirahat.

Kamu selalu bilang “Aku kuat kok” “Aku sehat” “Kesehatanku tak jaga kok” “Aku gapapa” “Tenang semua aman” dan semua kata-kata lain yang selalu kamu ucapkan ketika aku mulai banyak memprotes jam istirahat dan makanmu yang mulai ngawur.

Terkadang ketika aku memprotes, terkadang aku berpikir “Kaya jam makan sama jam tidurku bener aja”. Tapi setidaknya aku tidur cukup dan sudah tidak pernah lagi tidur subuh.

Jagalah kesehatanmu, jagalah dirimu. Saat ini mungkin aku masih bisa ngomel-ngomel, protes, brisikin kamu tapi aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus bisa mengingatkanmu seperti ini. Mungkin kamu ga suka dan merasa terganggu, tapi itu semua demi kebaikanmu. Karena aku peduli, karena aku sayang dan aku ingin kamu selalu dapat yang terbaik dan menjadi yang terbaik tanpa harus mengorbankan kesehatan dan jam istirahatmu.

Ketika aku mulai brisikin kamu, yakinlah itu karena aku peduli dan sayang denganmu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu. Apalah dayaku, aku hanya bisa membiarkanmu melakukan apapun yang kamu mau dan akan selalu siap sedia jika kamu mulai lelah dan colapse. Aku hanya mampu mendukung dan memberimu semangat sambil sesekali (sesekali? Setiap hari) mengingatkanmu (terlalu brisik mungkin). Aku ingin melihatmu tersenyum seperti biasanya. Aku rindu suara tawa lepasmu yang dulu sering ku dengar.

Maaf ya, aku kangen kebersamaan kita dan terkadang kenangan itu diputar seperti film dalam memoriku. Tangisku tidak seberapa jika dibandingkan tawaku saat bersamamu. Aku memang egois. Aku menuntut sesuatu yang tidak bisa kamu berikan.

Aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Maaf jika aku menghambatmu dan selalu menjadi kerikil yang mengganggu perjalanmu. Jagalah dirimu, jagalah kesehatanmu bukan demi aku (apalah arti hidupku dalam dirimu??) demi dirimu sendiri dan orang-orang yang kamu sayangi (dan mungkin aku tidak termasuk).

 

Yogyakarta, 24 Agustus 2016

Untitled Poem

^EJv056.jpg

Seperti barisan ombak yang berhilir menuju pantai.

Angin sepoy-sepoy di pantai dan deburan ombak.

Berdua kita berjalan bersama mengukir nama di hamparan pasir.

Ombak kecil membasahi kaki kita.

Dan terpaan sang surya membuat senyum diantara kita terlihat jelas.

Jelas, sampai mentaripun tetap ingin tinggal melihat senyum kita.

Kamu tahu apa yang indah selain enggannya mentari meninggalkan kita?

Ketika waktu juga ikut berhenti ketika tatapan kita beradu.

Ketika tatapan kita beradu, seperti ada gelombang perasaan yang hanya kita saja yang mengerti.

Aku, kamu, suara ombak, dan hembusan nafas kita yang seirama.

Gelombang yang sama, gelombang yang tak tersurat namun bagai tak henti menyapa membelai lembut bagai ombak kecil di ujung pantai.

Kita…

Kata yang terikrar dan terucap di pantai ini, bahkan sepertinya alampun menyetujui janji kita.

Tak ada lagi aku, kamu, yang ada hanya kita dan kemana kita melangkahkan kaki ini, sejalan, seirama.

Bahkan tarikan dan hembusan nafas kita pun sekarang sudah seirama.

Dimana ada aku disitupun pasti ada kamu.

Yogyakarta, 10 September 2015

Tiba-tiba saja aku teringat puisi yang tidak sengaja kita buat. Berawal dari kata-kata puitismu ketika kita sedang mengobrol di LINE dan akhirnya aku tanggapi dan berakhir menjadi bait-bait puisi yang bersambungan. Kamupun tiba-tiba memindah obrolan melalui BBM supaya puisi itu tidak rusak.

Taukah kamu? Dulu, ketika aku membalas kata-kata itu hatiku sampai tidak karuan dan berdebar. Padahal ketika itu, kita hanya dua orang yang bertukar cerita, pemikiran, dan kekonyolan. Tidak ada perasaan lebih dari sahabat.

Sekarang, hari ini, ketika aku menuliskannya kembali, hatiku masih berdebar dan membayangkan malam itu. Tidak terasa senyum kecil mengembang dibibirku dan mukaku mulai terasa memerah.

Setelah hampir setahun berlalu, terlalu banyak kisah dan perubahan dalam pertemanan kita. Rasaku sudah berevolusi dari sekedar rasa sayang sebagai sahabat menjadi rasa sayang sebagai seorang perempuan yang sedang jatuh cinta kepadamu. Aku tidak tahu apakah rasamu juga sudah berevolusi atau tetap menganggapku sebagai sahabatmu. Aku hanya tahu pasti perasaanku karena akulah yang merasakannya.

Mungkin aku salah mengartikan sikapmu, hingga akhirnya akupun jatuh padamu. Semua perhatian yang kamu berikan sudah mengacaukan rotasiku. Radiasimu begitu hebatnya hingga hidupku dan perasaanku berjalan seperti roller coaster. Terlalu banyak paradoks yang terjadi, tawa-tangis, bahagia-sedih, dan banyak lagi bisa berubah dan terjadi dalam waktu yang singkat. Sebagai orang yang sedang jatuh cinta, wajar, kan jika aku mengharapkanmu memiliki rasa yang sama? Mengharapkan suatu saat hatimu juga terbuka dan mau menerima hati dan keberadaanku.

Masih boleh kan, namamu kusebut dalam setiap doaku?