23052017

Aku pengen aku yakin bahwa sikap dan perbuatanmu itu nyata. Nyata sebagai seorang yang memang sayang dan mau ngelindungi aku lebih dari seorang sahabat. Setiap kali ada nama perempuan lain, maafkan aku keyakinanku selalu meragu. Aku cuma ga pengen aku hancur seperti beberapa bulan yang lalu. 

Ketika aku mulai bisa menerima keputusanmu dan kumpulan kepingan hatiku mulai bisa ku kumpulkan lagi, kamu datang. Datang dengan memberikan harapan baru. Harapan yang lebih besar daripada harapan yang dulu. Ntah apa yang akan terjadi pada hati dan hidup ini jika memang kamu datang lagi hanya untuk menghancurkannya lagi.

Dulu, ketika kamu menghancurkannya susah payah aku mencoba menjalani hidup supaya aku tidak terpuruk. Susah payah tanpa ada sahabat yang selalu di samping yang siap mendengarkan cerita sakit hatiku dan tangisanku. Susah payah aku bangkit dan akhirnya dapat menyelesaikan apa yang harus ku selesaikan secepatnya untuk bisa cepat meninggalkan tempat yang terlalu banyak kenangan tentang kamu.

Mungkin kamu tidak tahu kalau aku tahu siapa nama perempuan yang kemarin sempat ku tanyakan itu. Tapi aku tahu! Aku tahu siapa dia. Dia perempuan yang pernah mengisi hari-harimu. Perempuan yang pernah menjadi harapan masa depan hidupmu.

Aku bisa apa, jika beberapa bulan bulan ini yang tinggal menghitung hari hatiku hancur lagi? Meskipun sudah kusiapkan mentalku ketika aku mulai mau menerima kehadiranmu lagi, tapi aku hanyalah perempuan biasa. Sekuat apapun sesiap apapun, ketika itu urusan hati semuanya berbeda. Hampir 3 bulan lamanya setiap hari aku menangis, ntah apa yang kutangisi. Apakah sikapmu dulu yang seperti sudah tidak mau dan tidak mau tahu hidupku bahkan sebagai seorang sahabat ataukah pemikiranku yang akhirnya menyakitiku.

Hampir semua orang di sekitarku mengkhawatirkanku. Hampir setiap hari mereka mendengar tangisanku. Mereka diam tanpa bertanya jika aku tidak bercerita. Mendengarkan setiap cerita dan keluh kesahku. Bahkan ketika aku memutuskan untuk kembali mau dekat dengan mu. Pertanyaan “kamu yakin, ri?” “kamu ga papa?” “kamu bahagia, kan?” “dia ga nyakitin kamu lagi, kan?” “dia masih hubungan sama cewek2 yang lain ga?”. Yang beberapa pertanyaan hanya ku jawab dengan senyuman dan pernyataan “doain aja”.

Iya, “doain aja” doain kalau kita memang berjodoh. Kalau tidak, sekuat apapun aku mencoba menggenggammu, pada akhirnya tangan kita akan terlepas. Saat ini, aku hanya mencoba meyakini setiap sikapmu kepadaku itu adalah sebuah komitmen yang memberikan harapan untukku. Ntah kamu menganggap seperti itu atau tidak. Tinggal menunggu hari dan tanggal eksekusi untuk kamu meninggalkan kota ini. Dan aku harus siap dengan apapun keputusanmu. Aku harus siap dengan kemungkinan terburuk aku harus mengumpulkan pecahan hatiku yang sudah pecah berkeping-keping lagi dan menjalani hidupku. Toh badai pertama dengan susah payah aku bisa menyelesaikan tesisku dan tetap hidup. Iya, kan? Kamu tidak akan setega itu kan memberikan harapan palsu dan mempermainkan perasaanku hanya untuk meninggalkannya berkeping-keping? Meskipun aku masih ingat dengan jelas pernyataanmu, kamu akan menuruti kemauan orang tuamu. Ah sudahlah! Aku sendiri sudah entahlah dengan hatiku ini. Semoga memang hatimu untukku ya, Koo. Dan kita memang berjodoh, jika bukan setidaknya kita pernah memiliki kenangan bersama. Tawa dan air mata yang jadi pelajaran untuk menjadi orang yang lebih baik.

Kamu dan Senjamu

Hari ini, ketika aku baca novel Seno Gumira Ajidharma yang berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku” aku teringat Kamu dan senjamu.

Sepotong senja di tanah kelahiranmu yang kamu ambil tanggal 14 Oktober 2016. Kamu kirim potongan senjamu sore itu. Senja dengan gunung, laut, dan langit dengan semburat jingganya. Senja yang membuatku bertanya “Bisakah kita memandang senja bersama dan merealisasikan puisi kita dulu?”. Senja yang memberiku harapan. Senja yang membuat perasaan ini semakin mendalam.

Tapi, senja juga pernah membuatku patah. Senja dari perempuan lain yang kau banggakan. Senja yang membuatku berpikir, mungkin senjamu sudah bukan untukku lagi. Potongan senja itu yang membuat hatiku bukan hanya teriris tetapi terpotong-potong.

Senja selalu mengingatkanku padamu. Senja yang menyadarkan perasaanku padamu. Senja yang selalu menyadarkan aku betapa rindunya aku padamu. Lalu kubisikkan kata rinduku pada senja supaya senja membisikkan rinduku padamu, menyampaikan betapa senja ini membuatku semakin merana karena rindu yang tak tersampai. Rindu tanpa sosokmu di sekitarku. Rindu radiasimu yang selalu membuatku nyaman dan aman.

Ketika senja mulai bernyanyi untukmu, tanpa sadar akupun ikut bernyanyi dengannya.

Itu senja pertamaku untukmu. Senja ketika untuk pertamakalinya aku mulai menyadari persahabatan kita membawaku ke tingkat lanjut sebuah rasa. Rasa yang aku sendiri tidak tahu apakah akan tenggelam dan hilang seperti senja yang tertelan malam ataukah akan tetap abadi menjadi senja yang selalu kita nantikan dan nikmati berdua setiap harinya.

Aku sendiripun tidak tahu sampai kapan akan menganggapmu sebagai senjaku. Karena sejak senja pertama untukmu itu, senja selalu rasa seperti kamu. Kamu adalah senja. Senja adalah kamu.

-Me, who loves you and declares that you are my sunset. May I?-

Yogyakarta, 05 Maret 2017 22.55

Aku Harus Belajar!

Iya, hidup ini memang tentang berusaha dan menerima. Berusaha sebaik-baik untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Berusaha dan berdoa sebaik-baiknya dan pada akhirnya menerima hasilnya. Terkadang hasil ini pun ada yang sesuai dengan apa yang kita inginkan atau bahkan terkadang mendapatkan lebih dari yang diinginkan. Namun, ada kalanya hasil yang diperoleh jauh dari apa yang diinginkan dan diharapkan.

Begitulah, mungkin aku menginginkan kamu, menganggap kamulah yang terbaik untukku. Aku berusaha sebaik-baiknya menjadi orang yang lebih baik dan berdoa untuk kita bisa bersatu. Tapi, pada kenyataanya perasaan ini ternyata hanyalah perasaan sepihak. Iya, aku menyalahartikan semua perhatianmu dan menyadari bahwa ini hanya perasaan sepihak saja. Aku menginginkan kamu sedangkan kamu tidak menginginkanku, mungkin kamu menginginkan orang lain. Pada akhirnya, sekeras apapun usahaku dan doaku, serta seyakin apapun perasaanku padamu semua kembali lagi pada Allah. Jika Allah maunya kamu bukan buat aku, aku bisa apa? Aku cuma bisa menerima kenyataan ini dan mengambil pelajaran dari hubungan kita.

Tidak perlulah, permusuhan ataupun pemutusan silaturahmi hanya karena satu pihak tidak mendapatkan apa yang diinginkan dari pihak lain. Toh banyak hal yang didapatkan selain dari hubungan percintaan. Memang, hubungaan cinta ini sangat rumit dan menyita banyak waktu. Tapi, apa mungkin perasaan dan hubungan yang baik-baik saja harus berakhir dengan saling membenci padahal dulu ketika bersama bisa saling memahami dan memaklumi? Ya, mungkin terbutakan. Tapi kalau dahulu bisa memaklumi kenapa sekarang tidak?

Tidak ada yang berubah, hanya perasaan yang mungkin sedikit tersakiti. But, time will heal everything. Rasa sakit dan kehilangan itu harus dihadapi kan? Semakin sering kita menghadapinya, maka akan semakin kuat kita melawannya, begitu kan seharusnya? Bukan dengan menghindar dan menyimpannya dan suatu saat akan datang sebagai hantu masalalu yang terkadang membuat penyesalan.

Aku sadar, mungkin memang aku tidak pantas untukmu, disamping memang kamu tidak menerimaku. Aku, memang hanya seorang gadis biasa dengan banyak kekurangan dan kelemahan. Kamu, dengan semua kelebihan yang kamu miliki, yang membuatku kagum dan nyaman dan pada akhirnya perasaanku berkembang untukmu. Aku merasa aku tidak pantas untukmu, meskipun aku pernah berpikir “mungkin aku pantas berada di sisimu”. Tapi pikiran itu saat ini sudah jauh. Kamu terlalu jauh dari jangkauanku. Kamu terlalu sempurna untuk gadis sepertiku. Bukan hanya untukmu saja, mungkin aku tidak pantas untuk orang lain juga karena semua kekuranganku. Aku harus tau diri. Bukan aku rendah diri, tidak, aku masih sayang dengan diriku dan bangga dengan beberapa hal pencapaianku. Tapi, saat ini aku merasa belum pantas untuk siapapun, termasuk kamu. Aku cukup bersyukur dengan teman-teman yang selalu ada untukku dan selalu menghiburku.

Aku ingat beberapa hari yang lalu, aku hampir menangis (apa malah sudah menangis tapi ditahan? 😯😯) melihatmu presentasi. Bukan karena presentasimu membuatku sedih, hanya saja aku menyadari kamu terlalu sempurna dan kenyataan aku harus sadar diri siapa aku. Kamu begitu charming dan presentasimu sangat mengagumkan membuatku merasa semakin aku tidak pantas untukmu. Hehee

Aku harus belajar lagi. Aku harus lebih memapankan hidupku lagi. Mengumpulkan pecahan hatiku yang berserakan dan mulai menatanya lagi. Meskipun tidak akan sama dan utuh lagi karena sebagian pecahan itu telah hilang bersama hilangnya kamu dari hatiku. Memantaskan diri untuk setidaknya pantas untuk diriku sendiri untuk membuat diriku sendiri bangga dan dengan mantap mengucapkan “INI AKU!”.