Tetaplah Semangat!

Aku tahu kamu sosok laki-laki yang kuat dengan kemauan yang keras.

Dan kamu akan berjuang untuk mendapatkan apa yang kamu mau, meskipun banyak hal yang harus kamu korbankan.

Aku suka keteguhan hati dan kemauan kerasmu. Karena jujur saja, aku bukan orang yang bisa hidup seperti itu. Dan aku kagum dengan semangatmu itu.

Tapi, entah mengapa ketika kamu mau sesuatu kamu hanya terfokus pada tujuan itu dan mengabaikan banyak hal. Ya, banyak hal bahkan dirimu sendiri.
Aku tidak menuntut apapun darimu dan tidak ingin mengubah apapun darimu karena laki-laki yang sedang berjuang demi mimpinya itu sangat kereeen. Haha 😂😂 *mesti uda kegeeran kalau baca dan tau aku bilang gini*. Dan aku akan selalu mendukung apapun yang sedang kamu usahakan saat ini jika memang itu demi kebaikanmu.

Tapi, tidak bisakah kamu peduli dengan kondisimu? Kamu dengan segenap tenaga dan usahamu berusaha menyelesaikan tesis dan pekerjaanmu bahkan harus mengorbankan waktu tidurmu. Jujur, aku sedih melihat hidupmu akhir-akhir ini menjadi seperti ini. Meskipun dulu mungkin kamu pernah seperti ini.

Tidur menjelang subuh atau bahkan lebih parahnya lagi setelah subuh. Pleaaaaassseee, jaga kesehatanmu. Aku tahu semua kata-kataku tidak pernah kamu turuti hanya kata “iya” tetapi tidak pernah benar-benar kamu dengar. Kamu mengiyakan untuk membuatku diam dan tenang.

Memang, aku tidak punya hak apapun untuk mengatur hidupmu. Mungkin buatmu aku hanyalah pengganggu yang selalu saja brisik dan mengatur hidupmu. Jika kamu mau memikirkannya, itu semua aku lakukan karena aku sayang dan peduli denganmu. Aku tidak ingin kamu menggadaikan kesehatan masa mudamu. Aku tidak ingin melihatmu bekerja seperti zombie. Tanpa perasaan dan tanpa pernah istirahat.

Kamu selalu bilang “Aku kuat kok” “Aku sehat” “Kesehatanku tak jaga kok” “Aku gapapa” “Tenang semua aman” dan semua kata-kata lain yang selalu kamu ucapkan ketika aku mulai banyak memprotes jam istirahat dan makanmu yang mulai ngawur.

Terkadang ketika aku memprotes, terkadang aku berpikir “Kaya jam makan sama jam tidurku bener aja”. Tapi setidaknya aku tidur cukup dan sudah tidak pernah lagi tidur subuh.

Jagalah kesehatanmu, jagalah dirimu. Saat ini mungkin aku masih bisa ngomel-ngomel, protes, brisikin kamu tapi aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus bisa mengingatkanmu seperti ini. Mungkin kamu ga suka dan merasa terganggu, tapi itu semua demi kebaikanmu. Karena aku peduli, karena aku sayang dan aku ingin kamu selalu dapat yang terbaik dan menjadi yang terbaik tanpa harus mengorbankan kesehatan dan jam istirahatmu.

Ketika aku mulai brisikin kamu, yakinlah itu karena aku peduli dan sayang denganmu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu. Apalah dayaku, aku hanya bisa membiarkanmu melakukan apapun yang kamu mau dan akan selalu siap sedia jika kamu mulai lelah dan colapse. Aku hanya mampu mendukung dan memberimu semangat sambil sesekali (sesekali? Setiap hari) mengingatkanmu (terlalu brisik mungkin). Aku ingin melihatmu tersenyum seperti biasanya. Aku rindu suara tawa lepasmu yang dulu sering ku dengar.

Maaf ya, aku kangen kebersamaan kita dan terkadang kenangan itu diputar seperti film dalam memoriku. Tangisku tidak seberapa jika dibandingkan tawaku saat bersamamu. Aku memang egois. Aku menuntut sesuatu yang tidak bisa kamu berikan.

Aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Maaf jika aku menghambatmu dan selalu menjadi kerikil yang mengganggu perjalanmu. Jagalah dirimu, jagalah kesehatanmu bukan demi aku (apalah arti hidupku dalam dirimu??) demi dirimu sendiri dan orang-orang yang kamu sayangi (dan mungkin aku tidak termasuk).

 

Yogyakarta, 24 Agustus 2016

Untitled Poem

^EJv056.jpg

Seperti barisan ombak yang berhilir menuju pantai.

Angin sepoy-sepoy di pantai dan deburan ombak.

Berdua kita berjalan bersama mengukir nama di hamparan pasir.

Ombak kecil membasahi kaki kita.

Dan terpaan sang surya membuat senyum diantara kita terlihat jelas.

Jelas, sampai mentaripun tetap ingin tinggal melihat senyum kita.

Kamu tahu apa yang indah selain enggannya mentari meninggalkan kita?

Ketika waktu juga ikut berhenti ketika tatapan kita beradu.

Ketika tatapan kita beradu, seperti ada gelombang perasaan yang hanya kita saja yang mengerti.

Aku, kamu, suara ombak, dan hembusan nafas kita yang seirama.

Gelombang yang sama, gelombang yang tak tersurat namun bagai tak henti menyapa membelai lembut bagai ombak kecil di ujung pantai.

Kita…

Kata yang terikrar dan terucap di pantai ini, bahkan sepertinya alampun menyetujui janji kita.

Tak ada lagi aku, kamu, yang ada hanya kita dan kemana kita melangkahkan kaki ini, sejalan, seirama.

Bahkan tarikan dan hembusan nafas kita pun sekarang sudah seirama.

Dimana ada aku disitupun pasti ada kamu.

Yogyakarta, 10 September 2015

Tiba-tiba saja aku teringat puisi yang tidak sengaja kita buat. Berawal dari kata-kata puitismu ketika kita sedang mengobrol di LINE dan akhirnya aku tanggapi dan berakhir menjadi bait-bait puisi yang bersambungan. Kamupun tiba-tiba memindah obrolan melalui BBM supaya puisi itu tidak rusak.

Taukah kamu? Dulu, ketika aku membalas kata-kata itu hatiku sampai tidak karuan dan berdebar. Padahal ketika itu, kita hanya dua orang yang bertukar cerita, pemikiran, dan kekonyolan. Tidak ada perasaan lebih dari sahabat.

Sekarang, hari ini, ketika aku menuliskannya kembali, hatiku masih berdebar dan membayangkan malam itu. Tidak terasa senyum kecil mengembang dibibirku dan mukaku mulai terasa memerah.

Setelah hampir setahun berlalu, terlalu banyak kisah dan perubahan dalam pertemanan kita. Rasaku sudah berevolusi dari sekedar rasa sayang sebagai sahabat menjadi rasa sayang sebagai seorang perempuan yang sedang jatuh cinta kepadamu. Aku tidak tahu apakah rasamu juga sudah berevolusi atau tetap menganggapku sebagai sahabatmu. Aku hanya tahu pasti perasaanku karena akulah yang merasakannya.

Mungkin aku salah mengartikan sikapmu, hingga akhirnya akupun jatuh padamu. Semua perhatian yang kamu berikan sudah mengacaukan rotasiku. Radiasimu begitu hebatnya hingga hidupku dan perasaanku berjalan seperti roller coaster. Terlalu banyak paradoks yang terjadi, tawa-tangis, bahagia-sedih, dan banyak lagi bisa berubah dan terjadi dalam waktu yang singkat. Sebagai orang yang sedang jatuh cinta, wajar, kan jika aku mengharapkanmu memiliki rasa yang sama? Mengharapkan suatu saat hatimu juga terbuka dan mau menerima hati dan keberadaanku.

Masih boleh kan, namamu kusebut dalam setiap doaku?

Pelan-pelan, saja!

DSC06550

Pagi itu, kuputuskan aku akan melangkah. Di awali dengan kabut di luar kereta yang menemani perjalan senduku untuk melupakanmu. Dingin. Jelas, karena jaket yang menghangatkanku sengaja kutinggal di motor. Aku ingin merasakan dingin yang menusuk. Dingin yang mampu membekukan hatiku yang sempat menghangat karenamu.
Tujuan perjalananku kali ini adalah menghilangkanmu dari pikiranku. Meninggalkan semua kenangan yang ada di kota ini meskipun hanya sehari. Kota ini, terlalu penuh dengan memori tentangmu.

Tapi ternyata aku salah, kota tujuanku pun ternyata masih penuh memori tentangmu. Kita pernah menghabiskan waktu bersama menyusuri jalanan kota ini. Hati ini masih saja merasa ngilu jika ingat kenangan bahagia itu. Otakku terus saja kembali ke masa itu, scene demi scene berjalan seperti film yang diputar ulang di depanku.

Dan, pada akhirnya, tujuan perjalanan itupun tidak pernah tercapai. Kamu, bayanganmu, dan memori tentangmu tetap masih enggan untuk pergi dari pikiranku. Rasa rindu yang sudah mengendap sebulan lebih menambah semua penderitaan akibat radiasimu.

Seminggu setelah perjalanan itu, perasaan ini tak berubah sedikitpun, mungkin hanya berevolusi menjadi sebuah kepasrahan. Pasrah atas semua pilihanmu dan ketentuan-Nya. Mungkin aku akan tetap berusaha semampuku dan tetap berdoa berharap suatu hari kelak rasamu akan mencair dan mencariku.

Sambil menunggu masa itu tiba, aku akan berusaha untuk menguatkan diri jika memang pada akhirnya kamu bukanlah jodohku. Perlahan-lahan menghilangkanmu dari pikiran dan keseharianku. Mungkin aku hanya perlu membuat memori yang sama tapi tanpa kehadiranmu berharap memoriku bersamamu hilang tergantikan.

Aku harus siap sendiri. Toh memang dari awal aku hanya sendiri. Aku harus bisa beradaptasi lagi. Mungkin terlalu sulit untuk langsung menghilangkan dan melupakanmu jika kita masih ada dalam ruang dan waktu yang sama. Pelan-pelan, aku pasti bisa berdamai dengan keadaan dan menerima kenyataan. Aku harus mempersiapkan skenario terburuk, karena aku yakin aku tidak akan mampu menahan goncangan besar dalam hidupku tanpa persiapan yang matang. Aku hanya bisa berusaha, dan biarlah Allah melakukan sisanya.